Selasa, 05 Juli 2011

Subuh Movement on the road.... (hahay judulnya aya aya ae...)

Baru beberapa kali subuh kami sholat subuh di masjid-masjid sekitaran puncak. program ini biar kereen kami namakan subuh movement on the road hehehe... hal ini kami lakukan dalam rangka melatih kebiasaan bangun dini hari untuk sholat shubuh.khusus buat kita orangtua yang insya allah diharapkan dapat "menular" untuk zahdan dan yazdad...

awalnya ide ini muncul ketika tejadi gerhana bulan total pada 16 juni 2011 kemaren...saya ngotot pengen sholat gerhana berjamaah (sampe2 ga tidur soalnya takut kebablasan). akhirnya saya dan suami sepakat untuk mencari masjid yang melaksanakan sholat sunat Khusuf (gerhana bulan) masjid deket rumah sepiiii cuy..ga ngadain solat khusuf jama'ah.

karena tidak punya asisten dirumah maka dengan terpaksa (pd saat itu..), kami harus mengajak anak2. saya membangunkan anak-anak (Zahdan 4th dan Yazdad 2,5 tahun) pada jam 02.00 dengan asumsi bahwa puncak gerhana terjadi pada pukul 03.00 jd kemungkinan sholat dimulai jam 03.00.

berangkatlah kami jam 02.30 menembus dinginnya malam dengan mengendarai vespa "si jagur" hehehe..

masjid pertama...sepi..
masjid kedua...sepi..
masjid ketiga...dan seterusnya...karena kami susuri jalan raya puncak bogor dari arah cisarua....hingga akhirnya sampai di masjid at -ta'awun puncak pas juga...alhamdulillah sepi  :( akhirnya kami memutuskan sholat khusuf berdua eh ber empat dengan anak-anak..yang alhamdulillah segar bugar tidak terlihat ngantuk.
kami terus berada di masjid At-Ta'awun sp subuh tiba dan kami pun berjama'ah sholat subuh..dengan para musafirin yang ada hehe (ada kejadian yang menggelitik pada saat subuh tiba, karna lama ditunggu ga ada yang adzan maka abah yang adzan, setelah nunggu beberapa menit abah iqomah...tapi ga ada yang maju untuk jadi imam akhirnya abah jadi imamnya lho... hehe bisa gitu yah...?? n A zahdan tertib sholatnya...Subhanallah wal Hamdulillah..) akhirnya setelah sholat subuh dan sarapan kami pun pulang karena takut keburu siang, takut ada polish soalnya kita ga pake helm (malah abah ga pake jaket segala haha freezz dia brrr)...tadinya kan ga jauh..jauh...eh ternyata nyampe puncak pas.
sepulang solat gerhana dan subuh di at-ta'awun


nah dari situlah muncul idenya...gimana kalo kita bangun sebelum subuh trus pergi ke masjid-masjid di sekitaran puncak pake kendaraan biar anak-anak heppi "mrk belajar" tapi seolah-olah mereka sedang jalan2 hehe (tapi kadang A zahdan mogok juga ga mau jalan..dingin ah katanya.. :D)
yup itulah, kami akhirnya belajar dari pengalaman....happy learning every body....
kita kesiangan pas nyampe udah rakaat ke dua jd sholat bertiga aja.ambu di lantai dua sholatnya.

@ masjid Al-Muqsith puncak






sholat berjamaah yuuks...







yup....amalan yang pertamakali di hisab di akhirat kelak adalah SHOLAT


oleh karena itu, supaya kedua buah hati kami, terbiasa untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim kelak, maka sedini mungkin kami menanamkan kebiasaan sholat ini.
kami memberi ibarat Anak seperti "Pohon"
Kenapa sejak kecil anak diajarkan shalat dan tahu agamanya?

kami menganggap ini sebagai pendidikan ruhaninya, agar kelak dewasa nanti dia bisa mandiri, tahu apa yang harus dilakukannya saat menghadapi segala macam permasalahan dalam kehidupannya.

menurut kami mendidik anak yang sudah besar, itu sama saja kita mencoba meluruskan pohon yang sudah bengkok dari muda dulu. Karenanya, akan sangat sulit sekali lurusnya. Kalau diluruskan dengan paksaan ia akan "patah".

Karena itu selagi dia masih kecil, dan masih bisa dibentuk, maka  bentuklah sedari dini hari, jangan sampai siang hari, nanti kesiangan, apalagi senja hari, nanti  rabun senja. Lebih parah kalau dibentuk sudah malam hari, mata udah rabun, gelap, pandangan mata sudah tak kentara..tinggal menunggu masa tiba

karena alasan alasan di atas Alhamdulillah kami dapat merealisasikannya...

agar menarik dan semangat....saya coba kasih semacam reward... saya menyebutnya " stiker tempel"                                               saya mengcopy icon nya dari sebuah Lembar Kegiatan Anak penerbit Aku Anak Saleh yang saya beli di islamic book fair di senayan tahun 2008 waktu itu harganya 1000 rupiah/buku(karna bukunya untuk KBK tahun 2004)ketika zahdan berusia 1th (masih produksi ga ya... soalnya buku2, majalah, kuartet,ulartangga aku anak sholeh sudah ada dan menemani saya waktu masih di sekolah dasar hehe)


icon yang saya copy dan gunting
 

             
     

             sebenarnya saya ingin membuat icon yang bisa di download oleh teman-teman tapi berhubung cara buatnya masih meraba-raba alias gaptek hehe mungkin lain kali ditambahkan lagi..Insya Allah.                  
                                         

Belajar DIMANA saja, DARI MANA saja !!! begitu MUDAHNYA belajar...

Saya sangat bersyukur ketika saya dan suami bisa bersentuhan dengan dunia homeschooling. Terutama bagi saya pribadi, karena HS lah saya "dipaksa untuk belajar/mencari informasi" atau bahkan "informasi yang datang tanpa disengaja/tidak sengaja bisa belajar" (big tema homeschooling banggets yak hehe) hal ini bisa saya rasakan setelah bersentuhan dengan HS/HE/HL.
yup..yup..yup...
kejadiannya tanpa direncanakan pada hari jum'at 24 juni kemaren, kami (anak-anak dan saya ) tiba2 memutuskan untuk ikut "turun gunung" ke bogor, nganter abah (padahal sebenernya pengen jalan2 ajah, bukan ngater abah tuuch xixi) untuk "kerja". mendampingi bosnya yang kebetulan kebagian jadwal mengisi khutbah jum'at di masjid raya bogor.
ketika menunggu sebelum sholat jum'at dimulai anak2 lari-larian di pelataran masjid....(saya pikir mereka hanya sekedar lari2an), ternyata zahdan menghampiri saya dan berkata...ambu itu apa hewan yang terbang itu tuuh A zadan lupa namanya..yang suka ada di sawah deket rumah sarua..ow..ow apakah itu?? ternyata eh ternyata banyak capung yang berterbangan.(kesempatan neeh sekalian sharing ilmu neeh ma jagoan2ku )

ketika "dialog " dengan anaku berhenti karena dia kembali mengejar capungnya...mataku tiba2 tertuju pada kertas buletin yang tergeletak begitu saja di lantai pelataran masjid..judulnya cukup membuatku penasaran...
hmmm....penesaran juga kan?(hehe maksa..) artikel ini ditulis Oleh: Mohammad Fauzil Adhim dengan judul Ingin anak Anda sukses? Perhatikan, siapa gurunya! dan ternyata buletin yang saya temukan menyadur artikel ini dari http://majalah.hidayatullah.com/....

saya senyum2 sendiri ketika membaca artikel tersebut....kenapa harus repot2 cari guru yang baik....kenapa bukan kita saja sebagai orang tuanya yang menjadi gurunya.. 

saya kasih intip sebagian isi artikelnya >> "Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn, dan William Sanders (1997) terhadap 60 ribu siswa memberi pelajaran berharga kepada kita betapa pentingnya memperhatikan siapa yang menjadi guru bagi anak-anak Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor paling penting yang berpengaruh secara langsung terhadap belajar murid adalah guru. Maka, jika anak- anak yang kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orangtua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan murid-muridnya. Di luar itu, ada pertanyaan lain yang harus dijawab, apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti, kompetensi saja tak cukup.
Kembali pada riset yang kita perbincangkan di awal tulisan ini. Wright dan kawan-kawan mencatat bahwa, guru-guru yang efektif mampu menjadikan para muridnya berkembang secara efektif. Ini berlaku untuk semua siswa dengan berbagai jenjang prestasi, tidak peduli seberapa majemuk ragam anak-anak di kelas. Jika di kelas banyak anak yang gagal mengembangkan kemampuannya secara efektif, berarti guru tidak mampu mengelola kelas. Bahkan bisa lebih dari itu, yakni tidak mengenali para muridnya dengan baik.
Catatan ini menunjukkan bahwa, kegiatan belajar-mengajar yang efektif sangat sulit terjadi apabila guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik. Jika murid banyak yang menunjukkan perilaku menyimpang atau antar murid tidak ada rasa saling hormat, tak ada aturan dan prosedur yang dihormati sebagai panduan perilaku, dan rasa persahabatan antar siswa sangat rendah, maka kekacauan di kelas akan menjadi hal yang wajar. Dalam situasi seperti ini, kata Marzano dalam bukunya yang bertajuk Classroom Management That Works (2003), baik guru maupun murid sama-sama menderita. Guru harus berjuang mati-matian untuk mengajar, dan murid hampir pasti belajar jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya mereka lakukan.
Berbagai riset menunjukkan bahwa anak-anak yang kemampuan matematikanya rendah dengan skor 50% ke bawah, meningkat pesat kemampuannya setelah 2 tahun jika ia belajar di sekolah yang efektif dan guru yang juga efektif. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah rata-rata dengan kemampuan guru mengelola kelas yang juga rata-rata, tidak mengalami perubahan apa pun setelah dua tahun. Tetap saja kemampuannya tidak berkembang dengan baik. Sementara anak-anak yang belajar di sekolah yang tidak efektif dan –celakanya—memperoleh guru yang juga tidak efektif, justru makin lama makin bodoh. Semakin lama ia bersekolah semakin terpuruk prestasinya, semakin tidak mampu ia mengembangkan potensinya...." <<<<< tubikontinyu hehe..

kalo masih penasaran apa isi artikel yang lengkapnya , yang bikin saya senyam-senyum sendiri cek saja disini ya.. dan Insya Allah banyak artikel inspiratif lainnya yang bisa anda temukan disana.




Selamat Belajar Dimana, Saja Kapan Saja, Dari Siapa Saja......!!! ^.^



 



Sabtu, 25 Juni 2011

toilet training.....

yup...toilet training...
ini sebenarnya hal yang alamiyah , bagaimana si anak akan berhenti mengompol dan bisa BAK atau BAB ke kamar mandi sendiri atau di antar "pada waktunya"...
Waktu kita kecil pun kita akhirnya bisa berhenti mengompol.... 
Tapi ada pendapat bahwa kita bisa melatih anak untuk lebih cepat bisa merasakan dan mengontrol "hasrat nya" kalimat gampangnya adalah "si anak tau ketika dia merasakan ingin pipis atau pup..."
Mengajarkan anak untuk BAK dan BAB di kamar mandi (toilet training) memang tidak mudah. Butuh beberapa kesiapan, terutama kesiapan dari si anak itu sendiri. Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol ‘hajatnya’, apakah itu saat ia ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB). Selain itu, anak diharapkan mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. (http://wrm-indonesia.org).
ada beberapa tahap toilet training dan ada beberapa tanda untuk melihat kesiapan anak untuk memulai toilet training ini cek ini ya..

tapi saya benar-benar merasa proses toilet training kedua jagoan saya (yang saat ini berusia 4,2th dan 2,7th), sangat-sangat alamiah...saya tidak pernah membangunkan anak saya malam-malam untuk pipis, hanya sebelum tidur saya ajak ke kamar mandi untuk cuci kaki,tangan, muka dan sikat gigi sekaligus pipis. (walaupun kadang bocor juga kalau malam...hehe)
hanya saja zahdan lebih cepat prosesnya ketika saya mulai ToTra, zahdan sudah mulai tidak pake diapers pada saat dia usia kurang lebih 1,5th (karena dia sudah jadi kakak..hehe.. secara gt lho..daripada buat beli diapers sekali pake mendingan buat beli susu yang "baguus" kalee....karena zahdan berhenti menyusu ASI ketika saya mengandung adiknya )
dan alhamdulillah usia 2 tahun zahdan sudah bisa mengontrol "hasrat"nya bahkan ketika usia belum genap 3th zahdan bisa menahan untuk tidak pup di celana (karena dia sudah ga mau pake diapers. dan pada saat itu, saya dan dua jagoan saya sedang naik angkutan umum dan kejebak macet di jalan tol jagorawi,sampe keluar keringat dingin lho waktu itu...maaf ya sayang.)

yazdad beda lagi saya mengira dia "lebih lambat" dibanding kakaknya untuk ToTr.
karena saya ingin prosesnya se alamiah mungkin...maka saya sedikit "membiarkan" sampai si anak siap. sampai usia 2 th yaz kadang2 masih betah dengan diapersnya terutama ketika saat bepergian...kadang sampai penuh dia ogah ganti (hadoooh ini yang sering bikin kulitnya merah-merah, sp beli lotion buat ruam popok..), pada usia 1,5 th dia sudah mulai ga pake diapers dan sudah bisa bilang pipis dan kadang2 selamat sampai kamar mandi sebelum pipis di celana kadang tidak selamat juga :), dan segalanya kembali ke Nol ketika dia kemudian harus kembali memakai diapers karena kami harus pindah ke daerah puncak bogor, karena harus bolak balik jakarta-puncak dan karena udara puncak yang dingin sehingga cucian menumpuk, najis bisa berceceran dimana saja dan saya tidak punya asisten (hehe demi kenyamanan bersama akhirnya saya putuskan untuk kembali memakaikan diapers untuk de Yaz), ketika yaz sudah biasa pipis dan pup ditempatnya di kamar mandi kecuali ketika bepergian masih harus pake pampres (demi "keamanan" bersama hehe), alhamdulillah saat ini, yazdad sudah bisa lepas diapers saat dirumah ataupun bepergian, tapi ada kasus "kemunduran" atau apalah namanya dalam proses ToTra yazdad dan ini pun terjadi pada zahdan, yaitu di usia 2,3th sp sekarang (zahdan juga sama) suka ada ritual menahan pipis..dia suka menghentak2kan kakinya berlarian tak tentu arah atau berputar2 sambil memegang alat kelaminnya, sebagai ekspresi ingin pipis...tapi ketika di tanya atau diajak "de2/aa mau pipis? atau ayo dede/aa pipis dulu yuk?jawabnya "ngak kok tuuh..ga pipis kan, katanya".dan terkadang ketika dia akhirnya "menyerah" mau pipis dibuka celana pasti aja suka ada bercak pipis walau sedikit..... 
semoga tidak berkelanjutan.... ya sayaaang..

Clay

Saat anak-anak begitu bersemangat "belajar".saat itu saya sudah kehabisan bahan...WHAT??? hehe
ini terjadi di permulaan perjalanan HS kami...saking semangatnya semua bahan yang dipersiapkan ludeeeees hehe (ga nyangka..).
akhirnya saya acak-acak dapur...ketemu tepung terigu,tepung sagu,tepung ketan... melihat bahan tersebut teringat pernah baca tentang membuat CLAY sendiri di internet...tapi sayang lagi ga bisa akses internet, jadilah saya bikin CLAY dengan bahan seadanya dan komposisi yang SAKA alias sakainget alias seingatnya hahay...
bahannya clay ala saya :
1 bagian tepung sagu
1 bagian tepung terigu
1 bagian tepung ketan
pewarna makanan
garam
margarin/minyak goreng
air
caranya:
campur semua bahan aduk sampai tidak lengket di tangan ,trus dikukus kira kira sampai bahannya ketika di pegang kenyal2 gt deeh. pas clay mengeras..tinggal dikasih air, kalo melembek dikukus lagi aja..

alhamdulillah proses "bermain" kembali berlanjut.

masih penasaraan neeh...n pengen bikin clay yang "serius" cek disini ato disini search via mbah google

kenalan yuk....apa itu homeschooling... (copas dr tulisan pak aar ^_^)

Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah "home education", atau "home-based learning" yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.
Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah "sekolah rumah". Aku sendiri secara pribadi lebih suka mengartikan homeschooling dengan istilah "sekolah mandiri". Tapi nama bukanlah sebuah isu. Disebut apapun, yang penting adalah esensinya.
Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.
Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.
Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.

untuk info yang lebih detail tentang HS cari disini saja ya...

Gambaran IHS (Islamic HomeSchooling)

Saya copas artikel ini dari blog ibu wahidah semoga bermanfaat...

 Islamic Homeschooling

Share With Friends
” Upaya mengembalikan fungsi rumah sebagai wahana tarbiyah Islamiyyah sebagaimana diamalkan Salaful Ummah”
Oleh : Abu Muhammad Ade Abdurrahman

Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.
Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.
Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.
Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan ‘pelanggaran terhadap hak asasi anak’.
Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak ‘membela diri’, bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan : wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah.
Substansi dari bersekolah (schooling) sebenarnya adalah belajar (learning). Belajar dapat dilakukan di manapun. Bersekolah hanyalah salah satu cara untuk belajar. Jadi, para orangtua tak perlu merasa bersalah atau rendah diri dengan menjalankan Home-Schooling. Juga, mereka yang menyekolahkan anaknya ke sekolah massal pun jangan dulu berbangga hati.
Sebab, kalau kita mau lebih menukik pada kedalaman realitas, kita patut mempertanyakan : Apakah benar bersekolah itu otomatis sama dengan belajar ? Jawabannya : Belum tentu !
Mari kita pelajari faktanya ! Saat ini, berapa puluh juta lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi ? Di sisi lain, berapa puluh juta pula yang berstatus pengangguran ? Padahal, betapa besar karunia Allah berupa kekayaan alam di negeri ini. [1] Apa yang mereka pelajari di sekolah ? Inilah salah satu fakta bahwa belajar di sekolah belum tentu efektif. Dengan kata lain bersekolah belum tentu berarti belajar.
Dalam banyak kasus, bersekolah bahkan menjadi penyebab kegagalan hidup seorang anak. Tidak sedikit anak yang terjerumus kepada hal-hal negatif yang menghancurkan hidup mereka, justeru mereka dapatkan lewat pergaulan di sekolah, baik dari (oknum) guru-guru mereka atau dari (oknum) kawan-kawan mereka.
Tanpa perlu penelitian mendalam, banyak yang menilai bahwa metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang sekarang berjalan pun cenderung menciptakan mental-block (hambatan mental) yang menghambat laju kreatifitas anak, padahal justeru hal itu amat dibutuhkan di era informasi global saat ini.
Sekiranya otak anak terus menerus hanya dijadikan keranjang informasi iptek (itupun hanya sebatas untuk keperluan menyelesaikan soal-soal ujian). Maka dapat dibayangkan, betapa akan kesusahannya dia mengejar laju pertambahan informasi iptek yang terus berkembang dalam hitungan jam, atau bahkan menit.
Mengapa tidak terpikirkan oleh kita - para orangtua - untuk melatih dan mengasah otak mereka yang ajaib itu agar mampu memola ulang informasi tersebut, sehingga akhirnya mereka mampu menciptakan informasi baru ?
Merangsang anak untuk bertanya ‘Apa .?’ , ‘Mengapa . ?’ dan ‘Bagaimana. ?’ adalah hal yang penting sekali. Keingintahuan adalah tabiat dasar mereka.
Namun di samping itu, kita pun perlu merangsang anak untuk bertanya : ‘Mengapa tidak .?’ dan ‘Bagaimana jika .?’. Agar mereka menjadi insan-insan kreatif. Jangan keliru, kreatifitas pun sebenarnya adalah bakat alamiah setiap anak, jika saja para orangtua tidak malas mengasahnya. Atau, malah menyia-siakannya.
Sayang sekali, keingintahuan (curiosity) dan kreatifitas (creativity) - dua mutiara terpendam dalam jiwa anak - saat ini justeru banyak ditelantarkan di sekolah massal (formal). Wajar kalau Robert T. Kiyosaki berteriak lantang : “If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School !”.
Ada alasan lain : “Keunikan”. Anak itu unik! Cara belajar mereka juga unik, seunik sidik jari mereka; yakni masing-masing anak secara individual memiliki pembawaan dan cara yang khas dalam menyerap serta menggali pengetahuan. Jadi, bagaimana mungkin anak-anak dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, jika mereka dituntut harus “berseragam” di sekolah ?
Berdasarkan penelitian [2] bahwa seseorang menjadi jenius adalah pada saat dia mampu menemukan sendiri cara belajarnya yang unik dan orisinil. [3] Seperti dikatakan Enstein : “Saya tidak memiliki bakat-bakat khusus, tetapi hanya memiliki rasa keingintahuan yang besar sekali.”.
Keingintahuan yang sangat besar - dilandasi keikhlasan - jugalah nampaknya yang membuat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mampu bersabar duduk berjam-jam lamanya di sudut sepi perpustakaan. Beliau lakukan itu berpuluh-puluh tahun lamanya hingga akhirnya menjadi jenius di bidang hadits dan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Menjadi mujaddid abad ini sebagaimana diakui ulama besar yang sezaman dengan beliau, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah.
Namun, agar tidak memunculkan kontroversi yang sia-sia, perlu ditegaskan di sini bahwa :
· Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat profesi keguruan.
· Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat peran sekolah formal yang sudah ada dan banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat.
· Kami pun tidak mengklaim bahwa : Home-schooling adalah satu-satunya cara untuk mendidik Anak.
Tetapi . yang kami yakini :
- Home-Schooling adalah : Sarana paling efektif dalam upaya membangun hubungan baik dan hangat dengan Anak. Mendampinginya saat ia menjalani hari-harinya untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa.
- Home-Schooling adalah : Alternatif terbaik dalam mendidik Anak, memelihara fithrahnya serta mengembangkan potensinya yang unik. Karena berpijak pada orisinalitas dan individualitasnya sebagai hamba Allah.
- Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk menunaikan secara optimal peran dan tugas keorangtuaan yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
- Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk mengembangkan potensi orangtua dan anak dalam hal penguasaan ilmu syar’i, memperbaiki akhlaq diri, membina keluarga sakinah, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisai, bahkan mengembangkan potensi ekonomi.
ISLAMIC HOME-SCHOOLING
Islamic Home-Schooling (Selanjutnya akan disingkat IHS) adalah Home-Schooling yang diselenggarakan bertitik tolak dari pertimbangan syar’i, yakni kewajiban orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak, serta dijalankan dengan mengikuti tuntunan AlQuran dan AsSunnah sebagaimana dipahami dan diamalkan para pendahulu ummat ini yang shalih (AsSalafush Sholih).
Tujuannya adalah :
1. Terciptanya keluarga sakinah; yang di dalamnya semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan sebaik-baiknya
2. Terbentuknya generasi penerus yang bertauhid, berpegang kepada sunnah, berakhlaq mulia, berbadan sehat, multi-cerdas, kreatif dan mandiri serta memiliki semangat untuk membela Islam dan kaum muslimin
SUBYEK IHS
IHS PERMATA HATI dimaksudkan bagi anak usia 0 - 13 tahun secara umum. Atau sampai anak berusia 16 tahun bagi orangtua yang memiliki kemampuan mengajarkan gramatika Bahasa Arab (kitab gundul) dan ilmu-ilmu syar’i tingkat menengah. Adapun setelah anak memasuki usia baligh maka anak harus diarahkan untuk melakukan rihlah ilmiyyah guna menimba ilmu dari para ulama, jika hal itu memungkinkan (dan memang harus diupayakan).
MENGAPA “ISLAMIC HOME-SCHOOLING” ?
Menyelenggarakan IHS membutuhkan motivasi yang luar biasa besar dari pihak orangtua. Motivasi akan muncul ketika seseorang dengan sadar dan yakin memahami alasan mengapa dia melakukan sesuatu. Maka kita dituntut untuk memiliki prinsip.
Ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan prinsip dalam menyelenggarakan IHS :
1. Pertimbangan syar’i. Dalam syari’at, kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)
“Setiap anak yang dilahirkan berada di atas fithroh (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi.” (HSR. Malik, Ahmad, AlBukhori, Muslim, Abu Daud, AtTirmidzi)
2. Pertimbangan fakta sejarah. Banyak kisah dalam AlQuran yang menggambarkan peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. (Baca : Qs. Maryam 54-55, QS. Luqman : 13) Interaksi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cucu beliau, Hasan dan Husain, atau dengan sepupu beliau, Ibnu Abbas, atau dengan putera asuhnya yang berkhidmat kepada beliau, Anas bin Malik juga dapat kita jadikan referensi. Dari kalangan ulama Islam, tercatat misalnya Ibnul jauzi yang menulis kitab khusus untuk puteranya yang berisi petunjuk menuntut ilmu secara lengkap, Laftatul kabid fi nashihatil walad (Kitab ini patut menjadi rujukan dalam IHS).
3. Pertimbangan naturalitas. Perhatikanlah, anak ayam belajar tentang hidup kepada induknya. Anak kucing belajar tentang hidup kepada induknya. Bayi ikan paus belajar tentang hidup berpuluh tahun pada induknya. Tapi lihatlah si ujang dan si nyai. Kepada siapa mereka belajar tentang hidup ? Ah kasihan sekali, mereka belajar tentang hidup kepada orang lain yang tidak benar-benar mengenalnya !
4. Pertimbangan orisinalitas dan individualitas anak. Orisinalitas (keaslian) seorang anak adalah : fithroh, keingintahuan dan kreatifitasnya. Sedangkan individualitas (ke-diri-an), meliputi qolb dan jasad (contoh yang jelas : sidik jari, suara dan DNA). Orisinalitas dan individualitas menyebabkan tiap anak unik dalam segala hal, termasuk cara belajar mereka. Agar mereka dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, anak wajib mendapatkan kebebasan. [4]
DARI MANA KITA MEMULAI ?
a. Tash-hihun Niyyah (memperbaiki niat)
Mendidik diri dan keluarga adalah ibadah. Ada dua rukun ibadah, salah satunya adalah niat yang ikhlash. Rukun yang lain : muwaafaqotusy-syar’i, yakni cocok dengan aturan syari’at. Jika salah satu rukunnya rusak maka amal akan menjadi sia-sia.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir (terjauhkan dari rahmat Allah) QS. AlIsra: 18
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Huud : 15-16)
Niatkan ber-IHS dalam rangka menjalankan kewajiban syar’i dengan mengharap keridhoan Allah dan jannah-Nya.
b. Bagi yang masih lajang dan berniat ber-IHS, maka berhati-hatilah memilih calon ibu/ayah dari anak anda. Tetapkan pilihan Anda itu di atas dasar Din. Jangan silau dengan penampilan zhahir.
c. Keluarga sakinah sebagai prasyarat
Salah satu keuntungan ber-IHS adalah kita memiliki kemauan kuat dan terprogram untuk mewujudkan Keluarga Sakinah. Hal yang mungkin terabaikan jika kita melempar tanggung jawab mendidik anak (usia 0-13 thn) kepada orang lain. Alasannya sederhana. Saat kita memutuskan ber-IHS, kita ingin suasana lingkungan rumah tertata se-Islami mungkin. Kita takut anak kita mendapat pengaruh buruk dari kebiasaan buruk kita selaku orang tua. Maka selalu ada upaya untuk memperbaiki diri dan keluarga.
Apa itu Keluarga Sakinah ? Definisi yang paling teknis adalah : Keluarga yang di dalamnya, semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan baik. Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin dalam kitabnya, “Huququn da’at ilaihal fithroh wa qorrorot-hasy syari’ah”, menerangkan 10 hak yang wajib ditunaikan, yakni : Hak-hak Allah, hak-hak Nabi, hak-hak orangtua, hak-hak anak, hak-hak kerabat, hak-hak suami-istri, hak-hak pemimpin dan rakyat, hak-hak tetangga, hak-hak kaum muslim secara umum, hak-hak non muslim.
Semua hak ini wajib dipelajari secara rinci agar bisa ditunaikan dengan benar dan sempurna. Langkah pertama adalah mempelajari. Langkah kedua menerapkannya. Langkah ketiga terus-menerus mengevaluasi sisi mana yang belum tertunaikan. Mewujudkan keluarga sakinah menjadi bukan khayalan lagi, melainkan kesungguh-sungguhan yang berkesinambungan.
d. Dengan sepenuh hati menyukai anak anda. Senang bersamanya, sedih berpisah darinya. IHS menuntut komitmen total dari orangtua, khususnya ibu. IHS bukan sekedar memindahkan belajar dari sekolah ke rumah melainkan sebuah pola interaksi ideal orangtua-anak yang dibalut kehangatan dan kelembutan.
e. Menjaga rumah dari syetan
Kita adalah ‘keluarga besar’ Nabi Adam ‘alaihis salam. Apa yang menimpa beliau bersama isterinya, Hawa, adalah bagian dari sejarah dan hidup kita hari ini. Adam adalah bapak kita dan Hawa adalah ibu kita, dan kita mengetahui apa yang telah menimpa mereka diakibatkan kedengkian iblis. Membaca ulang kisah awal penciptaan manusia akan membantu kita memahami - atau tepatnya : selalu tersadarkan - tentang asas pendidikan Islami yang sebenarnya. Maka kenalilah iblis dan tipu dayanya lalu jadikanlah dia musuh untuk diperangi.
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka jadikalah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 6)
Beberapa kiat menjaga rumah dari syetan :
1. Perbanyak melakukan sholat di rumah [5] , 2. Perbanyak membaca Al Quran di rumah, 3. Biasakan dzikir pagi dan sore, 4. Jaga adab-adab di rumah yang di dalamnya ada bacaan-bacaan yang disyari’atkan, 5. Bersihkan rumah dari gambar atau bentuk-bentuk salib, 6. Bersihkan rumah dari gambar-gambar hewan dan manusia, 7. Bersihkan rumah dari patung hewan dan manusia, 8. Bersihkan rumah dari suara lonceng, 9. Bersihkan rumah dari suara musik, 10. Jangan biarkan anjing berkeliaran di sekitar rumah. 11. Bersihkan rumah dari kemungkaran.
f. Menciptakan lingkungan rumah yang kondusif : aman, sehat serta penuh daya-rangsang terhadap kreatifitasnya
Tentang kriteria aman, sehat dan penuh daya rangsang dapat dipelajari lebih lanjut dari beragai referensi. Hanya saja ada 2 prinsip yang perlu dicatat :
Pertama, lebih baik membatasi lingkungan daripada membatasi anak. Kedua, kurangi aturan (omelan-omelan) dengan cara menetapkan tempat tertentu untuk barang tertentu kemudian beri label dan tempel aturan singkat yang jelas dan dapat dibaca anak.
g. Memiliki kemauan keras untuk mempelajari baca tulis AlQuran dan ilmu-ilmu syar’i tingkat dasar
Dapat dikatakan bahwa materi pelajaran inti yang wajib diajarkan kepada anak usia s/d 13 tahun (usia ibtida-iyyah) adalah apa yang juga wajib diketahui semua muslim dan muslimah. Maka tidak ada alasan untuk menghindari kewajiban mempelajarinya, walaupun sekiranya kita tidak memiliki anak. Apalagi jika kita memiliki anak. Jelaslah ber-IHS merupakan peluang emas bagi kita untuk meningkatkan kwalitas keislaman kita.
h. Mempelajari keterampilan mendidik dengan cinta
Peran orangtua dalam mendidik anak persis seperti petani yang menanam padi di sawah. Yang harus dikerjakan dan selalu diperhatikan ada 5 hal :
1. Mempelajari ilmu tentang bercocok tanam (poin g dan h)
2. Memilih benih yang unggul (poin b)
3. Mempersiapkan lahan dengan mencangkul dan membajak (a, d, c dan f)
4. Memberikan nutrisi yang cukup : air dan pupuk
5. Menjaga dari hama (poin e)
Selanjutnya petani tidak ikut campur lagi. Bagaimana benih padi itu akan tumbuh, berapa lama berbiji dan menghasilkan biji seberapa banyak adalah merupakan ketentuan Allah. Petani tidak boleh dan memang tidak bisa intervensi. Petani sudah berusaha maksimal. Dia akan mendapatkan pahala di sisi Allah, jika amalnya itu ikhlash dan sesuai dengan syari’at.
Semuanya sudah dijelaskan kecuali nomor 4, memberikan nutrisi. Nutrisi dalam mendidik adalah : Rasa hormat yang tulus pada anak, Penuh pengertian, Peka terhadap masalah dan kebutuhannya, Menerima apa adanya dengan lapang dada. Jika menggunakan kosakata populer : Respek, Empati, Sensitif dan Penerimaan (dapat disingkat RESeP).
APA YANG HARUS DIAJARKAN ?
Untuk matapelajaran umum dapat mengacu pada kurikulum Diknas. Bisa juga menetapkan sendiri. Menjadikan hidup sebagai kurikulum, tidak ada yang melarang.
Penting untuk selalu diingat : bahwa cara dan pola pendekatan Home-Schooling dalam menyampaikan materi pelajaran murni berbeda dengan di sekolah. Dalam Home-Schooling yang ditekankan adalah memilih cara berinteraksi dan berkomunikasi yang tepat serta khas antara orangtua dan anak.
Orangtua dituntut kreatif dalam memilih metode dan media yang membuat interaksi menjadi hangat dan akrab. Jadikan proses belajar sebagai proses alamiah hubungan orangtua-anak (seperti halnya melahirkan, menyusui dan memberi makan). Semua momen interaksi orangtua-anak adalah belajar. Jadi dalam Home-Schooling anda bisa gunakan waktu kapanpun - jika dianggap tepat - untuk memberikan penguatan-penguatan pada salah satu materi yang menurut anda perlu diperkuat.
Materi Diniyyah yang diajarkan di IHS PERMATA HATI, secara garis besar meliputi :
A. Tarbiyah Syakhshiyyah (Pembinaan Karakter)
B. Tahfizhul Quran
C. Tahfizhul Ahaadits
B. ‘Ulum Syar’iyyah (Ilmu-ilmu Syar’i) : Aqidah, Manhaj, Fiqh, Tafsir, Akhlaq, Tarikh
C. Bahasa Arab
MENEPIS KERAGUAN
· Keraguan Pertama : “Aku tidak bisa menghadapi anak !”
Jawaban : Kala anda memutuskan untuk menikah, apakah tidak terpikirkan bakal memiliki anak ? Mempelajari keterampilan mengasuh dan mendidik anak adalah konsekwensi yang harus anda pikul dari keputusan yang anda ambil itu. Kecuali anda seorang egois yang hanya memikirkan kesenangan pribadi dari sebuah pernikahan ! Perhatikanlah, banyak orang yang mempelajari keterampilan seksual dengan cara membeli banyak buku referensi atau berkonsultasi kepada pakar seks, meski keterampilan tersebut amat sangat bersifat primitif dan - maaf - menjijikan kala dibuka di depan publik. Mengapa anda kalah oleh mereka. Anda bisa bersaing dengan mereka dengan mempelajari keterampilan yang jauh lebih penting, yakni keterampilan mendidik anak. Banyak wanita khawatir penampilannya tidak lagi menarik di hadapan suami lalu berusaha keras dengan berbagai cara. Tapi amat sedikit yang khawatir kalau penampilannya tidak lagi menarik di hadapan anak-anaknya sehingga tidak melakukan apapun untuk mereka. Ah, tragis sekali !
· Keraguan kedua : “Aku bukan ustadz !”
Jawaban : Ini sudah dijelaskan, bahwa materi pelajaran inti yang wajib diajarkan kepada anak usia s/d 13 tahun (usia ibtidaiyyah) adalah apa yang juga wajib (fardhu ‘ain) diketahui setiap muslim dan muslimah. Maka tidak ada alasan untuk menghindari kewajiban mempelajarinya, walaupun sekiranya kita tidak memiliki anak. Apalagi jika kita memiliki anak. Anda bisa bertanya pada diri sendiri : “Apakah kalau aku tidak ber-IHS, aku bebas dari kewajiban mempelajarinya ?”.
· Keraguan ketiga : Seorang ibu barangkali berkata : “Kalau aku secara total harus mengurus anak, bagaimana aku bisa mengembangkan diri ?”
Jawaban : Saya ingin menepis keraguan ini dengan menukil beberapa kalimat yang ditulis seorang wanita barat yang beragama nasrani, agar kaum muslimat - yang telah dijaga kehormatan dirinya oleh Allah dengan hijab - dapat merenungkannya (semoga kesimpulan mereka sama dengan saya, bahwa kalimat-kalimat ini lebih layak diucapkan oleh seorang muslimah yang berhijab) :
“Dalam budaya Barat, terbebas dari tanggung jawab mengasuh anak seringkali dipandang sebagai cara terbaik dan satu-satunya cara bagi seorang ibu untuk mengembangkan diri. Saya tidak setuju sama sekali dengan pandangan seperti itu. Waktu yang saya habiskan di rumah, bermain dan belajar bersama anak-anak, adalah masa paling produktif dalam hidup saya. Saya serius!”. (Marty Layne, Ibuku Guruku, hal. 26) Selanjutnya dia berkata di hal. 364 : “Sebenarnya hanya dengan benar-benar merawat dan mengasuh anaklah kita belajar bagaimana menjadi ibu.” . Lanjutnya lagi, masih di hal. 364 : “Mari kita lihat sebagian cara untuk mengembangkan kehidupan yang tidak mengharuskan pemisahan dari anak-anak kita.”
Kemudian dia memberikan contoh : membaca, merajut, membuat karya tulis atau berolah raga ringan !
MEMETIK MANFAAT
Apa manfaat menjalankan IHS ? Kalau saja tidak ada manfaat lain dari IHS selain pahala dari sisi Allah atas upaya kita menunaikan peran dan kewajiban selaku suami/istri dan atau ayah/ibu secara maksimal dan optimal, maka bagi seorang mukmin hal itu sudah cukup. Tapi ada banyak manfaat lain yang semuanya sudah disinggung pada penjelasan yang terdahulu. Semoga bermanfaat.
Karawang, 28 Shafar 1428 H/18 Maret 2007
———————————————————-
[1] Contoh kecil : Menurut keterangan Direktur Bank Mu’amalat Indonesia, bahwa panjang pantai Indonesia adalah 88.000 km sehingga menempatkan Indonesia termasuk 10 negara berpantai terpanjang di dunia. Ironisnya, kita masih mengimpor 1,5 juta ton garam per tahun !
[2] “Your child can think like a genius, How to unlock the gifts in every child”, karya Bernadette Tynan, presiden Beautiful Minds, sebuah lembaga amal yang didirikan untuk mendanai penelitian-penelitian yang bertujuan mengembangkan bakat alami anak-anak, mantan dosen senior pada Research Centre for Able Children di Oxford. (Diterjemahkan dengan judul : “Melatih anak berpikir seperti jenius, Menemukan dan mengembangkan bakat yang ada pada setiap anak”, Penerbit Gramedia). Inti buku itu adalah memperkenalkan : Thumb Print Learning, yakni : cara belajar seunik sidik jari.
[3] Belajar secara mulaazamah kepada masyayikh, sebagaimana dijalankan para salafus sholih berabad-abad lamanya, memberikan banyak kebebasan kepada siswa untuk menentukan matapelajaran apa yang akan dipelajari dan bagaimana dia mengembangkannya. Sehingga para siswa memiliki kesempatan yang luas untuk menemukan sendiri cara belajarnya yang unik. Allaahu a’lam.
[4] Bebas adalah keadaan seseorang ketika melakukan sesuatu dengan senang hati dan atas pilihannya sendiri. Mukmin, ketika melakukan ketaatan (menunaikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya) melakukannya dengan senang hati dan berdasarkan pilihannya sendiri, bukan karena tekanan. Maka mukmin adalah orang yang sungguh-sungguh bebas dalam makna yang hakiki. Munafiq adalah orang yang sungguh-sungguh terbelenggu jiwanya. Kafir juga bebas, tetapi kebebasannya bersifat maya (semu), karena secara internal dia sedang berperang dengan fithrohnya dan terbelenggu oleh hawa-nafsunya, serta berada di bawah ancaman azab. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa peran orangtua adalah ‘menanamkan’ pemahaman yang benar tentang kebaikan dan keburukan ke dalam pikiran anak, sehingga nanti anak bertindak berdasarkan pemahaman, bukan karena paksaan dari luar. Proses menanam ini harus dilakukan dengan dengan : ikhlash, berkesinambungan, multi-metode serta pendekatan lembut dan penuh kesabaran. Tidak ada batasan waktu tertentu yang diperlukan untuk proses ini. Nabi Nuh ‘alaihi salam tinggal bersama kaumnya selama 950 th, berdakwah siang malam (kesinambungan), dengan i’lan dan isror (multi-metode). Tidak dapat dikatakan gagal, hanya karena sedikit yang mengikutinya. Tidak ada kata GAGAL dalam kamus mendidik, jika sudah dilakukan dengan benar. Kita bertanggung jawab pada proses bukan pada hasil ! Menemukan cara yang pas untuk menanamkan pemahaman yang benar pada pikiran anak adalah sebuah seni mendidik yang amat indah! Selebihnya adalah kesiapan kita untuk memberi tempo yang cukup kepadanya untuk tumbuh dan berkembang.
[5] Pria dewasa wajib sholat fardhu di masjid. Jadi yang dimaksud bagi mereka adalah memperbanyak sholat-sholat sunnah di rumah.
—————————————————–
Dari makalah yang diposting Bapak Fatkhurohman di milis asahpenaindonesia. Sangat memberi pencerahan buat saya pribadi. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai komunitas Permata Hati, bisa menghubungi :
Permata Hati (Perhimpunan Orangtua Pemerhati Islam)
Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok S No. 238 Karawang
telp: 0267-8456046, direct 081381149700 (Fatkhurohman)

laptop DISITA jagoan-jagoanku... :)

lama tak nge-blog bukannya tidak mau tapi laptop yang biasa dipake nge-net "disita" sama anak2.
awalnya cuma maen game (ya Allah ekstra alot negosiasinya sama dua jagoanku supaya ga kelaamaan maen gamenya.karena A Zahdan 4,2th subhanallah sudah bisa klak klik sendiri untuk gonta-ganti permainan dan itu autodidak+kadang2 dia tanya sesekali kalo ada yang tidak mengerti hehe maklum A zahdan "belum bisa baca tulis" ini juga PR yang belum tuntas)...trus ketika saya mengakses youtube a zahdan+ de yaz langsung pengen dan setelah saya cari tema untuk anak-anak selanjutnya dia klak-klik sendiri...
dan itu berlangsung hampir sebulan ini sodara-sodara...sampe kuota modem ku hampir mubazir..karna ga dipake...
paling2 saya tulis judulnya saja..biar nanti sisanya ditulis..jadi mungkin nanti tulisan-tulisannya akan loncat2 dan tidak berurutan sesuai tanggal kejadian karena saya akan ngebut nulis malam ini.hehe mumpung anak-anak tidur cepat malam ini...
mudah-mudahan tulisan-tulisan ini bisa jadi contoh catatan untuk di intip bila nanti adek-adeknya zahdan lahir hihihi.Amiin

Bermain peran jadi tukang bangunan....

sudah beberapa hari belakangan ini ada aktifitas yang lain dirumah... ada beberapa tukang yang membantu memperbaiki beberapa bagian rumah kami.
dan sejak saat itu, zahdan ogah melakukan aktifitas lain selain berlama-lama di lantai atas bermain dengan pasir,meteran,kayu, balok, dan juga semen (aduuh yangbterakhir disebut ini yang bikin kulit zahdan dan yazdad terbakar dan iritasi.....fffhhh)
dia pura2 mengukur panjang kayu memaku paku dikayu tersebut dan menyusunnya seraya berkata..."ini rumah A zahdan ini pintu rumahnya ini pintu buat mobilnya...(padahal kita ga punya garasi atau mobil xixix mungkin itu impiannya)
moga pengalamannya bermanfaat kelak ya Aa>>> :)

Jumat, 24 Juni 2011

zahdan dan juara dua (logika)

 sebelum A zahdan bisa pake baju sendiri (sekarang pun kadang-kadang dia juga ga mood n ga mau pake baju sendiri seeh) nah pada saat itu kalau selesai mandi (always harus selalu bareng berdua de yaz mandinya) otomatis karena bareng mereka suka berebut atau malah ogah2an pake baju..
kalo mereka lagi ogah2an pake baju....saya pake taktik "ayoo...siapa mau duluuuan, ayo siapa mauu jadi juaraaa..." (nah lho mereka malah rebutaan neeeeh....malah pake acara tarik-tarikan en nangis-nagisan wadoh..gmn neeh..yup binggo)
"okeh dede duluan ya...aa sabar ya...."
dede senyum aa merengut
selesai dede pake baju...dede teriak "horeeeee dede juaraaaa satu.."(alhamdulillah dede 2,5th mang ngomongnya udah lancar seperti anak gede)
melihat aa masih merengut saya bilang "dede juara satu karna dede cepet-cepet dan duluan, tapi aa juga juara karna SABAR nungguin dede selesai....oke...."
hehe akhirnya dia tersenyum...


ada teriakan baru sekarang ketika selesai melakukan  sesuatu yang bersifat kompetisi...." horee aku juara duaaa...". (ketika dia selesai, entah itu memang dia selesai kedua atau malah ketika dia selesai duluan....hehe )
terkadang aa zahdan dan de yaz cekcok mulut gara-gara rebutan juara dua tapi de yaz akhirnya mengalah dia yang ambil "juara satu-nya".......
lama-lama terusik juga kenapa zahdan kok suka jadi juara dua...?
ketika ku tanya, apa jawabnya  : " iya...doonk ga apa2 dua kan juga sama juara..." 
 "tapi kan angka satu lebih dulu dari dua" (memastikan dia paham tentang jenjang tingkatan..)
"iyaaa...tapi gapapa zahdan kan juara bukan duluan tapi juara karna sabar nunggu dede selesai."
hmm..... (senyum2 sendiri...)

Kamis, 09 Juni 2011

Perkenalan dengan HOMESCHOOLING

Denger istilah HS udah dari masa kuliah...tapi saat kuliah belum konsen cari info mengenai itu,maklum beda jurusan..(dan cara belajar masih cara konvensional yang tidak bersinggungan langsung, tidak ngotot dicari..hehe sambil garuk-garuk), tapi kalau dunia pendidikan formal dan anak-anak dari dulu sejak madrasah tsanawiyah sudah terjun langsung (biasa anak madrasah biasanya di percaya ngajar ngaji di TPA milik keluarga besar hehe contoh nepotisme yang positif...) dan waktu madrasah aliyah pun begitu..kami dapat mata pelajaran didaktik (yang sumpah deeeh udah pada lupa..secara..kira2 udah 13 th yang lalu..ckckck..berasa tua neeh geleng-geleng) ada juga mata pelajaran psikologi anak dan perkembangan..(haha..kalo yang iniii...hampir sama...ingat2 dikit..banyak lupanya xixi). waktu kulaih pun begitu, sering ikut berbagai kegiatan sosial/baksos ke daerah2 dan tugasnya salah satunya mengajar di kelas, ada satu pengalaman yang wah yang sekaligus memilukan..pada saat kegiatan di salah satu daerah transmigran di kaki gunung ..kalo ga salah nama daerahnya "Usang Pulo", pokoknya ada di Lampung Barat, Lampung itu lho yang terkenal daerah krui nya itu.., disana benar2 daerah yang tak terjamah jangankan untuk jaringan satelit (internet maksudnya hehe), jalan pun hanya jalan setapak,tak ada listrik, hewan2 semacam babi hutan liar, monyet dll masih berkeliaran di depan pondokn kita yang berupa gubuk kosong beralaskan tanah, tak ada MCK pula wuih..baksos yang benar2 baksos. dan disana terdapat bangunan sekolah (itu pun kalo masih layak di sebut bangunan..,karena seperti rumah kosong yang di film2 yang tak terawat dan rusak dimana2) dengan 2 orang guru (dan menurut murid2nya yang cuma beberapa orang, salah satu gurunya itu galak dan tidak segan2 memukuli muridnya yang katanya "nakal" huwaa ...huwaaa... sedih banget kalo ingat itu), jadilah kami hanya mengajar yang sifatnya keterampilan saja.....

baksos ni dananya hasil "swadaya" kita "ngecrek" cari dana di jalanan pondok indah n pondok pinang. itu tuch..jalanan yang sering macet pas jam2an pulang kantor, selama dua bulanan dan tidak memprediksikan sebegitu memprihatinkannya salah satu tempat baksos kami di lampung itu,jadi terbatas gitchu aksi kita nya, sayangnya baksos nya juga cuma sebulan dipotong perjalanan jakarta- lampung jadi..yah pastinya jauh dari kata maksimal apalagi "sempurna".....

Dan pengalaman terakhir berhubungan dengan anak2 sebelum menikah dan punya anak sendiri adalah ketika jadi social worker Unicef & Muhammadiyah, pada waktu bencana tsunami di NAD. sy ikut dalam team Childrens Centre sebagai Psychosocial team bersama teman2 dari berbagai daerah dan universitas. sungguh pengalaman yang tak terlupakan, sarat akan pengetahuan (bagi saya), petualangan ala backpacker dan mengharukan selama kurang lebih 8 bulan di cot seumeureung (meulaboh, Aceh Barat) dan cot seurani, (Lhokseumawe) di NAD bersama teman-teman kecil sy dengan beragam trauma ..... 

(lho..lho..lho..kok kayaknya jadi kebanyakan introductionnya ya...hehe okeh lah kalo begitu..ayo kita mulai cerita perkenalan sy dengan si "HomeSchooling" ).


Baiklah begini ceritanya....



setelah lulus kuliah..sy kemudian memutuskan menikah....dan akhirnya lahirlah zahdan dan yazdad....kami masih belum "bertemu" apalagi "kenalan" dengan si "HS" ini. hingga pada suatu hari kami bertamu kerumah teman saya, ayah dan bunda nya kaka aura dan dede adiz...ini pertemuan kami yang entah kesekian kalinya...(kami sering saling berkunjung karena kebetulan sudah kenal sejak kuliah, satu komunitas himpunan mahasiswa primordial dan kebetulan juga usia anak2 kami sebaya dua2nya...cuma beda beberapa bulan.) pada pertemuan itulah mengalir cerita tentang si HS dan cerita bahwa kaka aura dan dede adiz udah di "kenalkan" dengan "om HS" hehhe jayuz ya...kami mulai tertarik dan mulai mencari tau siapa, apa, atau makhluk apakah  HS itu...awalnya kami mengasumsikan bahwa homeschooling adalah kegiatan persis seperti sekolah formal (ada jam masuk/mulai KBM, duduk manis di dalam ataupun di luar ruangan,kurikulum baku per jam mata pelajaran de el el gitu dech...xixixi..katro yak..) tapi dilaksanakn di rumah. kami pun dipinjami buku oleh bunkadiz,buku tentang homeschooling keluarga kak seto dan buku panduan HS dr diknas (bukunya masih belum di balikin hihi...malu..).


tapi kemudian karena kami harus pindah ke Bogor...hiks..hiks.. jadilah kami sendiriaan jauuuh dari sanak saudara dan handai taulan...hehe lebay yaa... biarin akh...yang penting eksiis..waduh apa coba  ^_^
kami harus berjuang sendiri..n tertunda untuk memulai kegiatannya..
ditambah ada "godaan yang menarik" di tengah jalan....yaitu dapet tawaran "keduakalinya" (tawaran pertama ketika hamil yazdad) beasiswa S2 komunikasi di SAHID university...  benar2 dilema :( , yang akhirnya di lewatkan saja... demi jagoan2 ku :)


 Akhirnya... sedikit demi sedikit kami mulai sering "mendatangi" mbah google untuk tanya2 tentang HS, dan kemudian sembari sedikit demi sedikit mengenalkan proses HS ke zahdan.
dan dari mbah google ini pula saya berkenalan dengan emagazine sekolahrumah yang belakangan saya tau itu asuhan pak Aar dan mba lala yang informatif serta banyak menginspirasi saya dalam proses homeschooling, komunitas HS berkemas dan dari blog komunitas berkemas sy berkenalan dengan mba dara maina (ummi rafif). 
yang juga melakukan HS dan dari blog mba dara pula saya banyak mendapatkan link keg HS.

akhirnya setelah saya rasa informasi dasar tentang HS cukup untuk memulai "serius" kegiatan HS zahdan, akhirnya  saya mulai focus melaksanakan HS/HE pada saat zahdan sembuh dari luka khitannya paas...Zahdan berusia 4 th. dan Yazdad berusia 2,5 th.

walaupun suuuuliiiiit soalnya sy orangnya moody trus agak2 ga disiplin gimaaanaaa gitchu...hehe.. ditambah dengan tidak adanya assisten dirumah (lengkaplah sudah...:d ) jadilah kegiatan diawali dengan acak adul...alias keteteran pada saat mulai kegiatan... xixixi..
tapi lama kelamaan mulai di atur ritmenya (cieeh..bahasanya...ritme hehey...)


begitulah sodare-sodare....perkenalan keluarga kami dengan homeschooling....

doakan yeeeh..biar berhasil....kegiatannya...
^_^


Rabu, 01 Juni 2011

ini pengalaman pertamaku nge-blog... so... this is it....

hehe...mang aneh ya..masa anak kuliahan ...
(eh...itu dulu...sekarang udah emak2, maksudnya mantan anak kuliahan) baru nge-blog hareee geenee...xixi
tapi ya itulah kenyataannya.
saya mulai nge-blog sendiri (krna sebelumnya musiqalbu, ciloksehat, dan villahotelpuncak.com masih hasil keroyokan xixi kasian ya dikeroyok...) sebenarnya atas dorongan (ampe nyungsruk..eh nyungsep malah hehe) my hubby alias abah alias suamiku huhuhu...... dan sebagai media portofolio untuk kegiatan homeschooling my baby bala-bala Zahdan & Yazdad yang saat ini berusia 4th dan 2,5th (atau mungkin untuk calon adik-adiknya kelak hehe niat banget yak..).
akhirnya....jadilah blog aneh bin ajaib ini.....(boleh baca sambil ketawa-ketiwi tapi jangan kenceng2 ya..ga enak sama tetangga...)
kalo dirasa ga ada manfaatnya, yah..paling tidak bisa bikin ketawa...kan jadi amal jariah tuch...hehe maksa...

 



Selasa, 31 Mei 2011

BISMILLAH........Aku sudah memulainya .....

Walau berat ...dan dengan segala keterbatasanku,ketakutanku,sifat "moody-ku", bayangan pesimisku.akhirnya aku beranikan diri untuk memulainya,karena semua ini adalah tugas "misi" besarku ...kewajiban yang telah tersemat pada diriku sejak menyandang predikat "ibu" (umm al madrasatul ula/ibu adalah "madrasah" yang pertama bagi anak2nya) untuk memberikan segala hal yang menjadi hak mereka. membesarkan mereka menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat kelak ... bagi kami maupun bagi agama kami, atau juga bagi negara kami ... bahkan bagi akhirat kami ... semoga ini semua jadi bagian dari amal sholeh kami .......dan menjadi sesuatu yang bisa aku banggakan. 
Walau Galau hatiku ... walau sering bingung, walau sering cekcok ... sama abah atas semua kebingungan ini, tetapi dengan dukungan terus menerus, support yang tak pernah putus dari abah dan karena aku ingat akan janji setiaku untuk membesarkan mereka, untuk menjadi bagian dari hidupku ... maka aku berjanji bahkan aku bersumpah untuk melakukan ini semua sampai AKHIR HAYAT ...!!! Amiin Yaa Rabbal A'lamiin.....